Pendidikan Kebangsaan dan Ketahanan Generasi Digital di Era Kecerdasan Buatan
pajangputrawijaya | Diposting pada |

|
Judul |
: Pendidikan Kebangsaan dan Ketahanan Generasi Digital di Era Kecerdasan Buatan |
|
Penulis |
: Rennanti Lunnadiyah Aprilia | Titi Suwarni | Nurhidayah | Devi Yaniar Wi Hargina | Umi Arifah | Rose Kusumaning Ratri | Endro Kuwati | Rahmat Joko Nugroho | Siti Fatimah | Sukataman |
|
Editor |
: Murwani Dewi Wijayanti |
|
E ISBN |
: Proses |
|
Terbit |
: 2026 |
|
Ukuran |
: 15,5 x 23 cm |
|
Stok |
: Proses |
|
Halaman |
: 174 halaman |
Deskripsi:
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam kehidupan generasi muda. Kemudahan memperoleh informasi, berkomunikasi, belajar, dan berkarya membuka berbagai peluang baru, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa arus informasi yang tidak terfilter, persoalan keamanan dan etika digital, perbandingan sosial, serta risiko memudarnya karakter dan identitas kebangsaan. Karena itu, menjadi generasi digital tidak cukup hanya dengan mampu menggunakan teknologi, tetapi juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, pengendalian diri, serta karakter yang kuat.
Buku Pendidikan Kebangsaan dan Ketahanan Generasi Digital di Era Kecerdasan Buatan mengajak pembaca memahami bagaimana generasi muda dapat hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan arah dan jati diri. Pemanfaatan kecerdasan buatan ditempatkan sebagai alat bantu yang perlu digunakan secara bijak, kritis, etis, dan tetap berada dalam kendali manusia. Pada saat yang sama, pembahasan mengenai jati diri dan wawasan kebangsaan menempatkan Pancasila sebagai poros nilai dalam menjaga identitas bangsa, memperkuat persatuan, serta membangun kemampuan menyaring pengaruh budaya global dan informasi digital.
Melalui pemahaman terhadap jati diri, wawasan kebangsaan, kearifan lokal, literasi digital, dan kehidupan di ruang digital, buku ini menekankan pentingnya membentuk generasi yang terbuka terhadap perubahan sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai keindonesiaan. Pendidikan kebangsaan tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi diarahkan pada kemampuan berpikir kritis, menghargai keberagaman, berpartisipasi secara bertanggung jawab, serta memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Tinggalkan Balasan